2captcha
Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   
2captcha
Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Peran Pemuda Dalam Memajukan Sulawesi Barat menuju Provinsi Unggul dan Malaqbi EKONOMI (Ekowisata Penggerak Ekonomi Daerah)

Potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam, yang dimiliki Sulawesi Barat merupakan anugerah yang tak ternilai. Keunikan dan keaslian budaya tradisional, keindahan alam, dan peninggalan sejarah/budaya yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat. Kondisi ini memberikan arti positif, yaitu kegiatan kepariwisataan alam dapat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat.

Dengan konsep Ekowisata yang juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, Sulawesi Barat tidak akan berada dalam jejeran “Provisi Termiskin di Indonesia” lagi. Ekowisata merupakan suatu kegiatan wisata yang bertanggung jawab dan mendukung upaya pelestarian lingkungan (alam dan kebudayaan) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Ekowisata terdiri dari komponen pelestarian lingkungan (alam dan budaya), peningkatan partisipasi masyarakat, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal, dan telah dikembangkan dengan sukses di banyak negara berkembang. Pengembangan ini selalu sejalan dengan dua prinsip dasar ekowisata, yaitu memberi keuntungan ekonomi langsung kepada masyarakat lokal serta turut andil dalam pelestarian alam.
potensi ekowisata sulawesi barat
Pantai Dato di kab. Majene, prov. Sulawesi Barat (foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
Lalu bagaimana dengan Sulawesi Barat, mengapa sampai saat ini pemerintah hampir belum mampu memberdayakan kekayaan alam serta budaya yang ada.? masyarakat yang didominasi oleh petani dan pelaut hanya terlilit oleh kemiskinan, masalah ekonomi menjadi tantangan terberat Sulawesi barat saat ini. Padahal jika kita mau sedikit saja membuka mata dengan potensi Sulaewesi Barat yang ada, saya sangat yakin kemiskinan yang mejadi permasalahan ini bisa sedikit teratasi. Berapa banyak Spot wisata yang terdata maupun yang tidak di Sulawesi Barat dari gunung smpai ke laut.? Ada banyak, hanya saja banyak orang yang tak bisa melihat potensi ini, pemerintah daerah seakan terpaku pada 1 Objek wisata saja, mereka tak melihat, banyak spot yang lebih indah dari hanya sekedar karampuang, dato, palippis, mampie, baraneq, limbong sitoqdoq dan lainnya. Kalaupun ada yang dikelola, pengeolaannya yang tidak maksimal, pemerintah selalu menghabiskan anggaran daerah untuk membangun fasilitas wisata dan setelah itu ditinggalkan begitu saja, tidak ada tindak lanjut. Padahal seharusnya masyarakat sekitar diberdayakan, misalnya dalam hal kebersihan lokasi wisata, fasilitas tambahan yang bisa dikelolah masyarakat, ataupun jajanan/kuliner, dalam hal itulah masyarakat yang seharusnya berperan aktif.

Menurut  Pedoman penyusunan RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah), tertulis dengan jelas bahwa “Pelaku utama yang menggerakan roda pembangunan pariwisata adalah unsur : dunia usaha, masyarakat (termasuk pers, LSM, akademisi) dan pemerintah. Namun demikian, pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator, sedangkan usaha pariwisata dan masyarakat merupakan pelaku-pelaku langsung dan kegiatan pariwisata” Nah, dengan melihat pada pedoman penyusunan RIPPDA, jelas sekali bahwa masyarakatlah yang harus beperan aktif di lapangan, masyarakatlah yang harus diberdayakan, sedangkan pemerintah hanya berfungsi sebagai fasilitator pendukung, fungsinya membantu terlaksananya kegiatan, jadi sulit untuk terlalu mengandalkan mereka dalam mengelola Objek Wisata, masyarakat lah yang melakukan.

Lalu di Sulbar seperti apa pemerintah dalam mengembangkan pariwisata? misalnya untuk kasus pantai Dato di Kab. Majene, masyrakatnya siap menunggu fasilitator  karena mereka butuh pembimbingan, lalu untuk pantai Mampie di Polewali Mandar, mereka contoh yang sudah sukses, dikelola sendiri oleh kelompok sadar wisata, dan pemerintah kabupatennya memfasilitasi.

Sudah saatnya para pemuda Sulawesi Barat menyadari potensi yang sangat kaya ini, kita punya laut, kita punya gunung, lalu kenapa tidak bisa mensejahterakan masyarakat.? Ada banyak orang diluar sana yang mengagumi Sulawesi Barat mulai dari alam dan budayanya yang unik, tapi karena tidak adanya informasi yang jelas dan akurat serta fasilitas yang kurang memadai, sehingga mereka enggan untuk berkunjung ke tempat kita.

Beruntunglah Sulbar, saat ini ada komunitas pemuda yang gencar mempromosikan dan memperkenalkan budaya dan pariwisata Sulawesi Barat. Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar adalah komunitas yang menjadi tombak utama dalam promosi Kekayaan alam dan budaya Sulbar, meski awalnya hanya bergerak di dunia maya, saat ini group Facebook dengan beranggotakan puluhan ribu itu memberikan efek yang sangat besar terhadap pemuda pemudi Sulbar, meskipun bergerak dengan swadaya, informasi mereka lebih lengkap dibandingkan dengan informasi dari Disbudpar, Pergerakan mereka lebih gencar dibandingkan dengan Disbudpar. Pemuda pemudi dari latar belakang profesi, mulai dari Dokter, Guru, TNI, Fotografer, Entrepreneur, Pengangguran, pencinta alam, Diver bahkan beberapa pejabat-pejabat sulbar yang sadar wisata dan budaya ikut aktif dalam komunitas ini. Bahkan komunitas tersebut telah melahirkan beberapa pemuda-pemuda hebat, sebagai contoh budaya literasi yang dibangun dari awal berdirinya menjadikan beberapa pemuda yang tergabung didalamnya sudah sangat lihai bermain dengan tulisan-tulisan yang meski saat ini masih bermain di media lokal. Contoh yang lebih konkritnya adalah SAHABAT PESISIR yang aktif dalam melestarikan pohon mangrove/bakau serta coral/karang yang ada di Gonda, desa laliko kec. Campalagian, Polman.

Saat ini pun Gonda dikelolah oleh beberapa pemuda jebolan Komunitas penggiat Budaya dan Wisata Mandar, mereka akan menjadikan Gonda sebagai destinasi wisata hutan mangrove dan wisata bawah laut (coral), dengan konsep Ekowisata tentunya. Dengan terbangunnya destinasi wisata yang ada disana nantinya, masyarakat akan terbantu secara ekonomi, wisatawan yang datang  pastinya akan membutuhkan lepa-lepa dan perahu Sandeq milik warga untuk melihat coralnya, wisatawan membutuhkan alat snorkeling untuk melihat keindahan bawah lautnya, wisatawan butuh makanan (kuliner) yang dimana masyarakat bisa membuka lapak-lapak kecil disekitar spot wisata, bukankah itu sudah cukup membantu perkonomian masyarakat.? Mereka punya pekerjaan lain dari hanya sekedar pergi melaut (manjala biring atau mattannag pukaq), dan tentunya masyarakat akan lebih sadar dengan kebersihan lingkungan karena adanya wisatawan yang datang, mereka akan membersihkan pantai agar terlihat lebih indah. Pemerintah juga harus ikut dalam mempromosi dan memfasilitasi.

Disinilah konsep Ekowisata itu berjalan, sinergi dari masyarakat, alam (lingkungan) serta pemerintah dalam mewujudkan Masyarakat Sejahtera dengan memanfaatkan Potensi yang ada.

Sebagai seorang pemuda, kita wajib untuk membuka mata, masalah ekonomi memang sudah menjadi realita yang nyata di Sulawesi Barat kita yang tercinta. Kita jangan tutup mata dan telinga, angkat bicara dan lakukan aksi nyata.

Penulis :
muhammad putra ardiansyahMuhammad Putra Ardiansyah, saat ini menetap di Makassar, Sulawesi Selatan, hobi travelling, fotografi, dan dunia bisnis. Alumni SMK Neg 1 Polewali yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Muslim Indonesia Makassar.
Kontak Saya :
Facebook : https://www.facebook.com/putra.s.motivato

Keseruan Upacara Cakkuriri Mandar

Upacara Adat Kerajaan Sendana (CAKKURIRI) tahun ini diselenggarakan pada hari Senin, 30 November 2015, setelah beredar kabar sebelumnya akan dilaksanakan pada tanggal 22 November, namun mengalami penundaan. Upacara adat ini sangat langka, betapa tidak upacara hanya dilaksanakan satu kali dalam lima tahun dan merupakan satu-satunya acara tradisi yang diselenggarakan dan berhubungan dengan kerajaan Sendana.
Acara yang dilaksanakan oleh pihak Pappuangang Puttada di desa Puttada, kecamatan Sendana ini didahului oleh ritual membunyi-bunyikan alat musik, beragam alat musik tradisi tampak, mulai dari calong, rebana, kecapi, dan alat musik serupa suling, uniknya acara pendahuluan ini dilakoni oleh kaum hawa atau ibu-ibu, dengan meletakkan dan membakar dupa sebelumnya.
acara sebelum upacara adat cakkuriri sendana
Ritual awal sebelum upacara adat Cakkuriri kerajaan Sendana (Foto : Indra Ariana)
Acara pertama didahului dengan pemotongan hewan kerbau (manggere’ terong), ritual yang hampir ditemui dalam acara-acara tradisi kuno yang ada di Mandar, Sulawesi Barat, seperti Massumaya yang dilakukan oleh masyarakat adat di Mosso, salah satu banua kaiyyang di kerajaan Balanipa,  pemotongan hewan berukuran besar biasanya menunjukkan skala kebesaran acara yang dilaksanakan.
Tahun ini upacara adat Cakkuriri dihadiri oleh seluruh pappuangan di Sendana (Pappuangan Somba, Pappuangan Paminggalan, Pappuangan Mosso, Toribonde dan masyarakat Sendana pada umumnya.
pappuangang kerajaan sendana
Pihak pappuangang di wilayah kerajaan Sendana saat upacara adat Cakkuriri kerajaan Sendana (Foto : Indra Ariana)
Upacara adat ini menghadirkan sebagian besar wilayah Pappuangang yang ada di Sendana, singkatnya tetua-tetua adat menghadiri acara tradisi ini dari kampung-kampung besar masa dahulu.
Berbagai ritual tradisi dilakukan dalam upacara adat ini, setelah pengibaran bendera Cakkuriri yang menjadi pusaka kerajaan Sendana.
pappuangang sendana di upacara adat cakkuriri sendana majene
Ritual didepan bendera Cakkuriri kerajaan Sendana (Foto : Indra Ariana)
ritual upacara adat cakkuriri sendana
Ritual di upacara adat Cakkuriri kerajaan Sendana (Foto : Indra Ariana)
bendera cakkuriri kerajaan sendana
Pengibaran bendera Cakkuriri, bendera kerajaan Sendana (Foto : Indra Ariana)
pembentangan bendera cakkuriri sendana
Pengibaran bendera Cakkuriri, bendera kerajaan Sendana (Foto : Indra Ariana)
Setelah acara pengibaran bendera Cakkuriri maka dilanjutkan dengan Todipoga. Acara terakhir ditutup dengan penampilan para penari anak dan remaja serta pertunjukan musik tradisional.
penari anak di upacara tradisi cakkuriri sendana majene
Penari remaja dan anak di upacara adat Cakkuriri kerajaan Sendana (Foto : Indra Ariana)

member kompa dansa mandar di upacara adat cakkuriri sendana
Member Kompa Dansa Mandar bersama salah satu tokoh masyarakat hadat di upacara adat Cakkuriri Sendana (Foto : Indra Ariana)
Upacara adat Cakkuriri adalah bentuk penghormatan dan penghargaan yang masih terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat hadat di kerajaan Sendana yang dipegang oleh para Pappuangang. Kelompok-kelompok ini dahulu mengangkat dan melantik raja atau maraqdia di kerajaan Sendana.

Penulis :

Indra Ariana, berasal dari Apoang, kecamatan Sendana kabupaten Majene ,
Kontak Saya :

 
Copyright © 2015 News Celebes. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger